Pendahuluan
Dalam dunia pengembangan software modern, kecepatan menjadi prioritas utama. Perusahaan berlomba-lomba merilis aplikasi dan fitur baru secepat mungkin agar tetap kompetitif.
Namun ada masalah besar yang sering diabaikan: semakin cepat software dibuat, semakin banyak pula celah keamanan yang tertinggal tanpa diperbaiki.
Masalah inilah yang dikenal sebagai security debt atau “utang keamanan”.
Security debt bukan hanya masalah teknis biasa. Ini adalah risiko bisnis yang terus bertambah dari waktu ke waktu jika tidak segera ditangani.
Laporan terbaru 2026 State of Software Security (SoSS) menunjukkan bahwa jumlah vulnerability berisiko tinggi terus meningkat di banyak perusahaan. Tetapi laporan ini juga memberikan strategi yang jelas tentang bagaimana organisasi dapat mengendalikan risiko tersebut.
Apa Itu Security Debt?
Security debt adalah kumpulan celah keamanan yang sudah diketahui tetapi belum diperbaiki dalam waktu lama, biasanya lebih dari satu tahun.
Contohnya:
-
Bug keamanan yang dibiarkan
-
Dependency lama dengan vulnerability
-
Sistem yang tidak di-update
-
Konfigurasi keamanan yang salah
Semakin lama masalah tersebut tidak diperbaiki, semakin besar risiko serangan siber yang dapat terjadi.
Karena itu security debt dianggap seperti “utang” yang terus bertambah bunga risikonya setiap waktu.
Data Mengejutkan dari Laporan SoSS 2026
Laporan SoSS 2026 menunjukkan kondisi keamanan software yang cukup mengkhawatirkan.
Beberapa temuan penting antara lain:
-
Security debt kini memengaruhi 82% organisasi
-
Critical security debt ditemukan pada 60% organisasi
-
Vulnerability berisiko tinggi meningkat 36% dibanding tahun sebelumnya
Jika dibandingkan dari tahun ke tahun, peningkatannya cukup drastis:
Tahun 2024
-
Security debt: 71%
-
Critical debt: 46%
Tahun 2025
-
Security debt: 74%
-
Critical debt: 50%
Tahun 2026
-
Security debt: 82%
-
Critical debt: 60%
Artinya, sebagian besar perusahaan saat ini memiliki celah keamanan serius yang sudah diketahui tetapi belum diperbaiki.
Mengapa Security Debt Terus Meningkat?
Ada beberapa alasan utama mengapa security debt semakin sulit dikendalikan.
1. Pengembangan Software Semakin Cepat
Saat ini perusahaan menggunakan:
-
CI/CD automation
-
DevOps
-
AI coding tools
-
Automated deployment
Semua teknologi ini membantu mempercepat development.
Namun masalahnya, proses perbaikan keamanan tidak berkembang secepat proses pembuatan software.
Akibatnya vulnerability menumpuk lebih cepat daripada kemampuan tim untuk memperbaikinya.
2. Penggunaan AI untuk Coding
AI coding tools memang meningkatkan produktivitas developer.
Namun AI juga dapat menghasilkan:
-
Kode tidak aman
-
Dependency berbahaya
-
Vulnerability baru
-
Konfigurasi salah
Jika kode AI tidak diperiksa dengan benar, security debt akan semakin bertambah.
3. Jumlah Aplikasi dan Dependency Semakin Banyak
Aplikasi modern menggunakan banyak:
-
Open-source software
-
Library pihak ketiga
-
API
-
Container
-
Cloud service
Semakin kompleks sistem, semakin sulit mengelola seluruh risiko keamanan.
Strategi Mengatasi Security Debt
Laporan SoSS 2026 menawarkan pendekatan yang lebih realistis dan efektif.
Strateginya terdiri dari tiga langkah utama:
-
Prioritize
-
Protect
-
Prove
1. Prioritize: Tentukan Prioritas Risiko
Perusahaan tidak mungkin memperbaiki semua vulnerability sekaligus.
Mencoba memperbaiki semuanya justru dapat membuat tim kewalahan.
Karena itu perusahaan perlu fokus pada vulnerability yang paling berbahaya terlebih dahulu.
Fokus pada Aplikasi Paling Penting
Tidak semua aplikasi memiliki risiko yang sama.
Contohnya:
-
Portal pembayaran online lebih kritis dibanding aplikasi internal sederhana
-
Sistem customer lebih penting dibanding website informasi
Dengan memahami aset paling penting, perusahaan bisa memprioritaskan perbaikan yang benar-benar berdampak besar.
Fokus pada Vulnerability Berisiko Tinggi
Laporan menunjukkan vulnerability high-risk meningkat hampir 40%.
Jenis vulnerability ini paling sering dimanfaatkan hacker.
Memperbaiki vulnerability kritis terlebih dahulu jauh lebih efektif dibanding mencoba membersihkan seluruh backlog sekaligus.
2. Protect: Bangun Perlindungan Otomatis
Setelah mengetahui prioritas risiko, langkah berikutnya adalah membangun perlindungan yang berkelanjutan.
Pendekatan manual sudah tidak cukup lagi untuk keamanan modern.
Perusahaan perlu mengintegrasikan keamanan langsung ke dalam proses development atau yang dikenal dengan DevSecOps.
Scan Security Lebih Awal
Security scanning sebaiknya dilakukan sejak awal development, bukan setelah aplikasi selesai dibuat.
Beberapa tools yang umum digunakan:
SAST (Static Application Security Testing)
Mendeteksi vulnerability pada source code.
SCA (Software Composition Analysis)
Memeriksa dependency dan open-source software.
Dengan scanning sejak awal, masalah bisa ditemukan sebelum masuk ke production.
Otomatisasi Perbaikan
Banyak tools modern kini mampu:
-
Memberikan rekomendasi patch
-
Membantu remediasi otomatis
-
Memberikan fix suggestion berbasis AI
Hal ini membantu developer memperbaiki vulnerability lebih cepat.
Gunakan Quality Gate
Perusahaan juga dapat membuat aturan otomatis yang memblokir deployment jika ditemukan vulnerability kritis.
Tujuannya agar bug serius tidak pernah masuk ke production.
3. Prove: Buktikan Keamanan Perusahaan
Saat ini keamanan software bukan hanya urusan teknis.
Regulasi dan audit keamanan semakin ketat.
Karena itu perusahaan harus mampu membuktikan bahwa sistem keamanan mereka benar-benar berjalan.
Pentingnya Compliance dan Audit
Perusahaan perlu memiliki:
-
Laporan keamanan
-
Bukti vulnerability remediation
-
Monitoring security posture
-
Dokumentasi compliance
Data ini penting untuk:
-
Audit regulator
-
Kepercayaan pelanggan
-
Evaluasi manajemen
-
Pelaporan ke direksi
Keamanan kini harus dapat diukur dan dibuktikan secara nyata.
Masa Depan Keamanan Software
Laporan SoSS 2026 menunjukkan bahwa pendekatan lama sudah tidak efektif.
Model lama seperti:
-
Scan di akhir development
-
Perbaikan manual
-
Security terpisah dari development
sudah tidak mampu mengikuti kecepatan pengembangan software modern.
Ke depan, perusahaan harus beralih ke pendekatan yang lebih proaktif dengan:
-
Prioritas risiko yang jelas
-
Otomatisasi keamanan
-
DevSecOps
-
Monitoring berkelanjutan
-
AI-assisted remediation
Kesimpulan
Security debt kini menjadi masalah besar bagi hampir semua organisasi modern.
Semakin cepat software dikembangkan, semakin besar pula risiko vulnerability yang tertinggal.
Namun masalah ini sebenarnya bisa dikendalikan jika perusahaan memiliki strategi yang tepat.
Pendekatan seperti:
-
Prioritize
-
Protect
-
Prove
membantu perusahaan fokus pada risiko yang paling penting, membangun perlindungan otomatis, dan membuktikan efektivitas keamanan mereka.
Di era software modern dan AI saat ini, keamanan tidak lagi cukup dilakukan di akhir proses development. Keamanan harus menjadi bagian dari seluruh siklus pengembangan aplikasi agar perusahaan dapat bergerak cepat tanpa mengorbankan keamanan bisnisnya.
veracode Indonesia merupakan bagian dari PT. iLogo Infralogy Indonesia, yang bertindak sebagai partner resmi veracode.
Selain itu, kami juga berperan sebagai penyedia layanan (vendor) sekaligus distributor berbagai produk Infrastruktur IT dan Cybersecurity terbaik di Indonesia.
